Bapakku Hilang, Ibuku Mati Penasaran

(Dokumen Pribadi/Ahmad Muhajir)


Bapakku Jafar telah menghilang begitu lama, puluhan tahun tanpa kabar, rasa penasaran entah sudah seperti apa kadarnya dan aku bahkan semakin merasa takut, menganggap diri ini benar-benar tidak punya perasaan, sebab sepertinya hati lambat laun jadi beku dan berusaha melupakannya.

Kisah pilu dimulai dari tahun 1998-an, ketika Harto lewat Orde Babi-nya berkuasa dengan tangan besi. Pergolakan menentang pemerintahan Harto meletus di mana-mana, skalanya semakin meluas, orang-orang tidak lagi tiarap dihadapannya, malah semakin berani pasang badan untuk menunjukkan bahwa dia harus tumbang.

Demonstrasi dengan massa jutaan pada akhirnya terjadi, sebuah momok yang paling ditakuti oleh penguasa, pada saat itu seluruh elemen rakyat mulai dari pelajar, mahasiswa, petani, nelayan, buruh, hingga kaum miskin kota terlibat. Bapakku pun ikut, begitu pula ibuku.

Bapak masuk barisan aksi, sementara ibu dipinggir jalan menyediakan minuman dan makanan untuk para massa. Pada saat itu, aku cuma bocah ingusan, tidak mengerti apa yang terjadi, dalam benakku hanya teringat ada kerusuhan besar di banyak tempat, dan tentara juga kelompok-kelompok sipil pendukung Harto tidak ragu-ragu menggebuk siapapun yang ikut demo.

Menjelang malam, hatiku gelisah, mempertanyakan apakah bapak dan ibu baik-baik saja kepada nenek, namun, ia hanya membalas dengan senyuman ketir. Tidak lama berselang, akhirnya ibu pulang, aku peluk dirinya, kuhirup bau badannya yang sedikit amis, lalu kuperhatikan bajunya ada noda darah.

Tentu, itu bikin aku kaget, kenapa bisa ada noda darah di bajunya? Ibu pun menjawab, itu karena demonstrasi tadi dibubarkan paksa oleh tentara, banyak orang lari kalang kabut ke berbagai arah. Tidak sedikit yang terpisah dari kawan-kawannya.

“Tentara menembaki kita nak, entah apa alasannya. Di samping ibu, ada orang tertembak, darahnya muncrat sampai terkena baju ibu, tapi sepertinya dia tidak mengenai organ vital karena dia masih bisa menyelamatkan ibu ketika terjatuh, kemudian kita berpisah untuk menyelamatkan diri.”

Lantas, aku bertanya bagaimana dengan keadaan bapak?

“Nadia, bapakmu sedang berjuang. Mungkin ibu tidak bisa menjelaskan persoalan ini dengan baik, kita mesti merelakannya dan mulai belajar menerima kemungkinan terburuk bahwa bisa saja bapak telah gugur.”

Aku hanya bisa terdiam, menangis pedih, menyesal tidak sempat mengucapkan betapa sayangnya aku dengan sosok bapak. Ibu kemudian memelukku dengan erat, badannya gemetar seperti ketakutan. Nenek menunduk lesu, ia menahan perih, aku tahu itu.

Setelah beberapa tahun situasi mencekam mulai mereda, Harto yang tidak lagi duduk di bangku kediktatorannya, keberadaan bapakku tidak juga diketahui. Banyak berita beredar terjadi penculikan paksa, mengetahui hal tersebut aku, ibu, dan nenek sadar kalau bapak kemungkinan besar adalah salah satu korbannya.

Andai dia dibunuh, mayatnya tidak ada, kalaupun telah dikubur, makamnya tidak diketahui. Ibu telah berusaha ke sana kemari mencari tahu di mana bapak sebenarnya, namun, tidak ada satu pun pihak yang bisa menjawab, bahkan negara tidak lebih dari kambing congek.

Pada momen tertentu ibu berkeluh kesah kepadaku, mendengarkan isi hatinya membuatku semakin tersayat-sayat. Aku jadi tidak ragu berdoa pada Yang Maha Kuasa, untuk mencabut semua ingatan, supaya terbebas dari situasi yang gila ini.

“Nak, apakah ibu harus berhenti mencari keberadaan bapakkmu? Yang ku cintai itu, ku sayangi sepenuh hati, betapa kagum ibu dengan sosok bapakmu, dia begitu peduli dengan nasib orang lain, dia selalu menyematkan pendapatnya tentang dirimu di sela-sela obrolannya dengan ibu.”

“Bu, Nadia tidak tahu harus menjawab apa. Aku juga tidak bisa berbuat banyak untuk mencari keberadaan bapak. Bagi Nadia, sudah waktunya ibu beristirahat, jujur bu, aku tidak kuat melihat ibu yang baru kehilangan nenek harus menanggung beban mencari bapak. Ibu sedang sakit, dan Nadia mesti bikin Ibu sehat lagi, baru kemudian kita cari bersama di mana bapak.”

Ibu menangis, tanpa mengeluarkan air mata. Tatapannya mendadak kosong, harapan seperti tidak muncul sedikitpun. Tidak lama dari itu, ibu meninggal, kata-kata terakhir yang paling aku ingat di dalam benak: ibu masih penasaran di mana bapak? Apakah dia baik-baik saja? Kalau dia sudah tiada, di mana jasadnya? Di mana kuburannya?

Seiring berjalannya waktu, rasa gelisah tidak juga redup dalam kehidupanku. Entah perasaan ini salah atau benar, aku jadi punya keinginan untuk melupakan bapakku sendiri, mulai mencari peralihan, menerima logika “racun positivistik” untuk mengubur masa lalu demi menyongsong masa depan.

Namun, baru ku sadari, itu adalah omong kosong! Semakin berusaha melupakannya, rasa sakit, pedih, penasaran, semakin kuat. Tidak terhitung lagi berapa kali terlintas untuk mengakhiri hidup ini.

Dan, kekeliruan tersebut pada akhirnya hancur dalam benakku, saat aku mengetahui kejadian penculikan paksa masih terjadi, kendati Harto telah mati dengan bau amis darahnya, namun, sikap dia telah diwarisi orang lain.

Aku pun sadar, melarikan diri hanya perbuatan sia-sia, bagaimanapun mesti ada yang bertanggung jawab dan diadili untuk memutus rantai tindakan bengis ini, agar tidak ada lagi orang lain yang merasakan hal sama.

Komentar