Menahun Namun Menyakitkan
Unsplash/Noah Silliman Kasim tidak bisa membohongi perasaannya sendiri, semakin lama hari terus berganti, semakin kuat pula ia menyadari suara hatinya. Betapa menyedihkan mesti menelan kenyataan kalau sosok bapaknya sendiri sudah menghilang sepenuhnya. Wajah sang bapak mulai kabur di ingatan, suaranya samar-samar di telinga, baunya tak lagi bisa dihirup. Mulanya dia punya tekad jika belenggu itu dapat teratasi seiring berjalannya waktu, berusaha berdamai dengan kenyataan, kendati layaknya meminum obat yang tidak memanjakan lidah, namun hal-hal tersebut tetap dijalankan, tertatih-tatih, dan sering kali meneteskan air mata. Ada perasaan yang tak kelar pada diri Kasim, memang dirinya tidak mencoba berusaha untuk menuntaskan itu, atau bisa jadi ia tak mengerti apa yang harus dilakukan dan bagaimana memulainya, akibatnya gangguan itu terus membayang-banyangi keseharian Kasim. Kini tekadnya mulai luntur, Kasim berpikir rasa menyakitkan kehilangan sosok bapaknya mungkin tidak akan perna...