Kini Sudah Punya 3 Anak

(pinterest/drunkbats)


Sobri tidak pernah membayangkan untuk memiliki anak, sejak lama dirinya sudah melayangkan sebuah deklarasi di mana memantapkan tekad tak mau punya keturunan.

Meski begitu, ada kalanya dia mengakui hal yang justru kebalikan, yakni tidak akan berpaling muka ketika ada anak terlantar khususnya jika berada di depan halaman rumahnya, sendirian, kelaparan, atau bahkan tampak tak berdaya, maka Sobri bakal mengadopsinya.

Awalnya ia berpikir hal tersebut mungkin tak akan terjadi, namun setelah menikah ternyata ada anak terlantar dengat syarat untuk diadopsi muncul persis di depan rumahnya.

Bermula sekadar memberikan makan dan minum selama beberapa hari, anak dekil, lusuh, dan bau itu, datang dan pergi ke rumah Sobri. Setiap berkunjung, dirinya selalu mempertanyakan beberapa hal: siapa namamu? di mana orang tuamu? di mana kamu tinggal?

Namun, bocah berkelamin laki-laki tersebut tidak pernah menjawab, cuma menunjukkan muka melas, mata berbinar, seolah menginginkan belas kasih dari orang lain.

Diam-diam istri Sobri, Lita, mencoba membujuknya untuk mengadopsi bocah tak berdaya itu, lantas dia menolak dengan tegas, sembari berusaha menyembunyikan syarat adopsi yang telah ia rumuskan sendiri. Bukan tanpa alasan, dirinya khawatir tidak sanggup merawat dengan baik, merasa akan gagal menjadi orang tua kemudian hari.

Lita tetap tidak berhenti berusaha meyakinkan suaminya, pelan-pelan, bagai tetesan air yang mampu mengikis kerasnya batu.

Suatu saat, Sobri menerima pesan dari Lita ketika sedang bekerja, kabar yang tak mengenakan hati. Terlampir sebuah foto dalam pesan itu, dijelaskan bahwa anak terlantar tersebut nampak sekarat, tertidur lemas di depan halaman, tak merespons saat disentuh, istrinya bertanya untuk terakhir kalinya, boleh diadopsi atau tidak? Dengan singkat ia menjawab iya.

Pasca setahun tinggal di kontrakan lamanya, Sobri dan Lita pindah ke daerah lain, sang anak tampak setres dengan lingkungan barunya, kerap merengek dan menangis entah karena apa.

Kurang lebih setahun berselang di tempat baru, Sobri beberapa kali melihat ada satu anak perempuan yang hidup di jalanan dekat kontrakannya. Mulanya Sobri tak acuh, kemudian memperhatikan kalau warga sekitar memberikan makan meski bukan untuk usianya.

Lambat laun, hati Sobri melunak, menaruh sedikit perhatian, menyoroti kaki dan tangan bocah perempuan malang penuh dengan jamur.

Singkat cerita, selepas dari warung dan pulang ke rumah, tiba-tiba anak itu mengikutinya dari belakang, Sobri tentu tahu apa maksudnya.

Momen itu, secara otomatis bikin dia menggendong sang anak, lalu ia memperkenalkannya kepada Lita dan untuk kedua kalinya mereka berdua mengadopsi anak terlantar.

Genap sudah anak dalam rumah tangga mereka, yang pertama laki-laki dan yang kedua perempuan. Tampak seperti keluarga sempurna.

Waktu berselang, pasangan suami istri tersebut mengalami tantangan hidup yang sulit, di mana mereka tidak lagi bekerja, sementara rumah tangga butuh sokongan dana, belum lagi ada dua anak kecil punya banyak kebutuhan.

Mereka hidup mengandalkan tabungan darurat yang kian menipis, tak lepas dari letupan-letupan konflik, kedua anaknya menyaksikan suasana panas itu, entah anak sekecil itu mengerti atau tidak.

Di suatu malam, kejadian yang tak diinginkan lagi ternyata memaksa untuk muncul. Alam seperti menganggap Sobri dan Lita layaknya rumah penampungan. Bagaimana tidak, suara rengekan nyaring tepat di depan pintu mendadak terdengar.

Sobri mengintip jendela depan, dan telihat anak perempuan menangis. Tak jelas asal-usulnya, seperti jatuh dari langit. Baik Sobri atau Lita menyimpulkan, bocah itu sengaja dibuang oleh orang lain.

Mereka pun menghampirinya, menatap mata satu sama lain, mengisyaratkan untuk tidak lagi mengadopsi. Sebab, bisa dipastikan tabungan darurat cuma cukup untuk beberapa bulan lagi.

Mereka terpaksa melakukan hal yang mungkin kejam, mencoba membuang kembali anak itu keluar rumah, tetapi kembali lagi dan tidur di depan pintu rumah. Seolah-olah mengatakan tolong rawat aku yang tidak berdaya ini, perutku tak pernah terisi penuh, setiap malam badan mengigil.

Alhasil, lagi-lagi Sobri dan Lita mengadopsinya meski tahu tak cukup uang. Rasa takut menghampiri, sembari berharap kehadiran anak ketiga ini bisa menjadi berkah tesendiri bagi rumah tangga mereka.

Tak terasa sudah beberapa tahun, tabungan darurat pelan-pelan mulai terisi kembali. Kini mereka sudah punya tiga anak, pertama laki-laki bernama Ome, kedua perempuan bernama Oni, ketiga perempuan dan paling subur bernama Ola.



Mengingat Lita sering mengungkapkan cukup terganggu suasana hatinya saat sanak keluarga mempertanyakan kapan punya anak? Sobri pun punya solusi, jawab saja sudah punya tiga kita, anak kucing.

Komentar

  1. Lucuuuu, bacanya dari awal sampe akhir sembil senyum2 apalagi pas liat fotonya. Itu anak atau ulet bulu?

    BalasHapus

Posting Komentar