Kisah yang Tak Terwujud

Istimewa

Kisah Bora mungkin terdengar konyol, dirinya pernah bercerita kepada sang istri tentang sebuah khayalan, namun ekspresinya ketika membicarakan itu penuh gejolak dan sangat sulit buat ditafsirkan.

Bora menyampaikan kepada istrinya dalam kondisi tertentu ia mengarang cerita terkait hidupnya di pikiran. Awal narasinya, sedang duduk santai pasca menyelesaikan tugasnya sebagai pramukantor (office boy/OB) lalu datang sesosok pria tua dengan penampilan biasa saja dan duduk di sebelahnya.

Tak pikir panjang, pria tua itu disambut hangat, ditawarkannya minuman, sembari bertanya apakah ada yang bisa Bora bantu? Pria tersebut menolak semuanya sambil tersenyum. Mungkin ia sadar Bora sedang istirahat dan lelah pula.

Tiba-tiba pria itu menanyakan sesuatu padanya, apa yang akan kamu lakukan anak muda kalau kamu punya banyak uang? Bora linglung, menanyakan balik apa maksud dari pertanyaan itu.

Pria tersebut ternyata cuma ingin tahu jawaban Bora, bermaksud mengajaknya berandai-andai. Bora pun menjawab, dirinya ingin melunasi utang-utang kakaknya, atau almarhum pamannya yang memiliki utang kepada tetangga dan abangnya.

Lalu, jika masi ada banyak uang, ia ingin bikin WC duduk untuk Ibunya karena lutut sudah mengalami pengapuran, cukup sulit untuk jongkok ketika ingin buang air. Tak lupa, Bora ingin menuntaskan urusan surat-surat rumah peninggalan Bapaknya karena memang terhalang uang.

Pria tua tersebut lantas bertanya lagi, jika tujuan-tujuan tadi telah tercapai, dan masih banyak uang apa yang bakal dilakukan? Bora menyatakan bahwa ingin menjamin biaya sekolah sampai kuliah buat keponakan-keponakannya yang banyak itu. Selain itu, sisanya ia simpan untuk kebutuhan rumah tangga.

Si pria tua merasa cukup heran, menanyakan kembali perihal keinginan Bora, kenapa lebih mengutamakan orang lain dibanding rumah tangga sendiri? Dengan tegas Bora meyatakan, rumah tangganya cukup stabil, sementara hal-hal yang tadi ia sebutkan justru lebih membutuhkan.

Kemudian, pria tua itu bertanya berapa jumlah uang yang diperlukan untuk mewujudkan keinginan Bora? Dijawabnya dua miliar rupiah. Sebuah nilai yang tentu mustahil digapainya.

Berpisahlah mereka berdua, dan keesokannya hingga beberapa hari kemudian Bora kaget di rekeningnya ada transfer bertahap dengan total tiga miliar rupiah! Ia pun langsung mengingat pria tua itu, mananyakan kepada orang-orang kantor siapa gerangan pria tersebut dan ternyata seorang investor besar, namun belum lama telah menghembuskan napas terakhir.

Keinginan-keinginan Bora pun terwujud, ia sangat berterima kasih kepada sosok pria tua yang tak lama ditemuinya. Begitulah pengakuannya kepada sang istri terkait khayalan yang muncul di kepala. Meski begitu, kenyataan diri Bora hanyalah manusia menyedihkan.

Bora pada dasarnya cuma seorang pengangguran, sudah mencoba berkali-kali melamar kerja tetapi tidak satu pun yang berhasil digapai. Beberapa kali pernah menjalankan usaha dan pada akhirnya kandas.

Alhasil, ia menilai kehidupannya sungguh sangat tak berguna, penuh kegagalan, begitu payah Bora hingga membuat sebuah ilusi dikasih uang miliaran sehingga bisa membantu keluarga, sekaligus berkontribusi untuk rumah tangganya sendiri.

Bora sangat malu dengan dirinya sendiri, tak berdaya menghadapi kehidupan, dan tidak jarang ingin lari dari kenyataan dengan mengakhiri hidup, namun nyali pun tak punya untuk melakukannya.

Komentar