Menahun Namun Menyakitkan

Unsplash/Noah Silliman

Kasim tidak bisa membohongi perasaannya sendiri, semakin lama hari terus berganti, semakin kuat pula ia menyadari suara hatinya. Betapa menyedihkan mesti menelan kenyataan kalau sosok bapaknya sendiri sudah menghilang sepenuhnya. Wajah sang bapak mulai kabur di ingatan, suaranya samar-samar di telinga, baunya tak lagi bisa dihirup.

Mulanya dia punya tekad jika belenggu itu dapat teratasi seiring berjalannya waktu, berusaha berdamai dengan kenyataan, kendati layaknya meminum obat yang tidak memanjakan lidah, namun hal-hal tersebut tetap dijalankan, tertatih-tatih, dan sering kali meneteskan air mata.

Ada perasaan yang tak kelar pada diri Kasim, memang dirinya tidak mencoba berusaha untuk menuntaskan itu, atau bisa jadi ia tak mengerti apa yang harus dilakukan dan bagaimana memulainya, akibatnya gangguan itu terus membayang-banyangi keseharian Kasim.

Kini tekadnya mulai luntur, Kasim berpikir rasa menyakitkan kehilangan sosok bapaknya mungkin tidak akan pernah musnah sepenuhnya, rasa itu seperti bakal bersemayam dalam dirinya, walaupun sesaat mampu melupakannya, namun tanpa permisi muncul kembali.

Lantas, Kasim merasa dirinya sangat menyedihkan, penuh penyesalan, rasa-rasa yang tidak mengenakan hati bertumpuk, dia tidak bisa menjelaskan itu. Rasanya begitu gelap, sesak napas, dan kosong.

Terkadang, muncul perasaan bersalah ketika Kasim mulai samar mengingat wajah bapaknya, saat itu pula dirinya membuka galeri untuk melihat foto bapaknya, tetapi hal ini cuma memicu sakitnya hati. Ketika sedang mengobrol dengan seseorang, lalu di sela-sela perbincangan tanpa sengaja mengucapkan “bapak saya” muncul seketika rasa tak enak.

Kadang kala Kasim bertanya-tanya pada dirinya sendiri, kenapa suasana hati yang tak nyaman ini tetap bersemayam dalam pikirannya, padahal dia menilai selama hidup tidak terlalu akrab dengan bapaknya, tidak pernah berbincang-bincang dari hati ke hati dengannya. Kemudian, Kasim sempat pula mempertanyakan, sebenarnya ia menyayangi bapaknya atau tidak, jika tidak kenapa dirinya begitu terganggu dengan kepergian sang bapak.

Adapun ketika mengingat kenangan yang menyenangkan dengan bapaknya, justru momen itu tidak mampu membuat hatinya lega, hanya kesedihan lagi yang menghampiri, membuat Kasim terguncang seketika.

Kasim mengakui, tidak ada kerelaan atas kematian sang bapak. Penuh dengan penyesalan karena tak ada satupun hal yang ingin dia lakukan bersama bapaknya terwujud, bahkan keinginan-keinginan demi momentum indah bersama bapaknya justru timbul saat bapaknya mati rasa dari bagian perut bawah hingga ujung kaki.

Dirinya merasa benar-benar payah, segala hal yang mau dilakukan bersama bapaknya tidak kunjung dilakukan hingga sang bapak menghembuskan napas terakhir, ia tidak pernah mengucapkan selama ulang tahun kepada bapaknya, apalagi membuat kejutan berupa kado. Dia juga pernah memiliki keinginan mengajak bapaknya untuk makan bersama di suatu tempat, namun hal itu juga tak bisa dilakukan, bahkan niat itu justru hadir ketika bapaknya tidak lagi bertubuh gemuk.

Ada salah satu hal yang bikin Kasim merasa begitu pilu, di tahun yang sama ketika bapaknya cuma bisa tertidur di atas kasur, sang bapak pernah mengirimkan sebuah pesan ucapan ulang tahun untuk dirinya. Bapaknya mengatakan: oh.. rupanya Kasim ulang tahun, bapak baru tahu, selamat ulang tahun ya, semoga panjang umur, mudah rezekinya, semangat dalam bekerja, disiplin dan taat beribadah, dan selalu dilindungi Allah SWT.

Setiap kali Kasim tidak sengaja melihat pesan itu, tetesan air matanya tak bisa terbendung, pikirannya keluar dengan liar, secara otomatis mengingat kenangan-kenangan bersama almarhum, sembari berharap sosok itu tak menghilang lebih dulu.

Kini ia menyadari sepenuhnya, memang kepergian bapaknya itu sudah menahun, namun rasa kehilangan tersebut tetap menyakitkan di dalam hati, ia harus berusaha menahan kepedihan saat merasa rindu, tidak jarang tenggorakan merasa sakit karena harus menahan tangis.

Komentar

Posting Komentar