Postingan

Kisah yang Tak Terwujud

Gambar
Istimewa Kisah Bora mungkin terdengar konyol, dirinya pernah bercerita kepada sang istri tentang sebuah khayalan, namun ekspresinya ketika membicarakan itu penuh gejolak dan sangat sulit buat ditafsirkan. Bora menyampaikan kepada istrinya dalam kondisi tertentu ia mengarang cerita terkait hidupnya di pikiran. Awal narasinya, sedang duduk santai pasca menyelesaikan tugasnya sebagai pramukantor ( office boy /OB) lalu datang sesosok pria tua dengan penampilan biasa saja dan duduk di sebelahnya. Tak pikir panjang, pria tua itu disambut hangat, ditawarkannya minuman, sembari bertanya apakah ada yang bisa Bora bantu? Pria tersebut menolak semuanya sambil tersenyum. Mungkin ia sadar Bora sedang istirahat dan lelah pula. Tiba-tiba pria itu menanyakan sesuatu padanya, apa yang akan kamu lakukan anak muda kalau kamu punya banyak uang? Bora linglung, menanyakan balik apa maksud dari pertanyaan itu. Pria tersebut ternyata cuma ingin tahu jawaban Bora, bermaksud mengajaknya berandai-and...

Menahun Namun Menyakitkan

Gambar
Unsplash/Noah Silliman Kasim tidak bisa membohongi perasaannya sendiri, semakin lama hari terus berganti, semakin kuat pula ia menyadari suara hatinya. Betapa menyedihkan mesti menelan kenyataan kalau sosok bapaknya sendiri sudah menghilang sepenuhnya. Wajah sang bapak mulai kabur di ingatan, suaranya samar-samar di telinga, baunya tak lagi bisa dihirup. Mulanya dia punya tekad jika belenggu itu dapat teratasi seiring berjalannya waktu, berusaha berdamai dengan kenyataan, kendati layaknya meminum obat yang tidak memanjakan lidah, namun hal-hal tersebut tetap dijalankan, tertatih-tatih, dan sering kali meneteskan air mata. Ada perasaan yang tak kelar pada diri Kasim, memang dirinya tidak mencoba berusaha untuk menuntaskan itu, atau bisa jadi ia tak mengerti apa yang harus dilakukan dan bagaimana memulainya, akibatnya gangguan itu terus membayang-banyangi keseharian Kasim. Kini tekadnya mulai luntur, Kasim berpikir rasa menyakitkan kehilangan sosok bapaknya mungkin tidak akan perna...

Kini Sudah Punya 3 Anak

Gambar
(pinterest/drunkbats) Sobri tidak pernah membayangkan untuk memiliki anak, sejak lama dirinya sudah melayangkan sebuah deklarasi di mana memantapkan tekad tak mau punya keturunan. Meski begitu, ada kalanya dia mengakui hal yang justru kebalikan, yakni tidak akan berpaling muka ketika ada anak terlantar khususnya jika berada di depan halaman rumahnya, sendirian, kelaparan, atau bahkan tampak tak berdaya, maka Sobri bakal mengadopsinya. Awalnya ia berpikir hal tersebut mungkin tak akan terjadi, namun setelah menikah ternyata ada anak terlantar dengat syarat untuk diadopsi muncul persis di depan rumahnya. Bermula sekadar memberikan makan dan minum selama beberapa hari, anak dekil, lusuh, dan bau itu, datang dan pergi ke rumah Sobri. Setiap berkunjung, dirinya selalu mempertanyakan beberapa hal: siapa namamu? di mana orang tuamu? di mana kamu tinggal? Namun, bocah berkelamin laki-laki tersebut tidak pernah menjawab, cuma menunjukkan muka melas, mata berbinar, seolah menginginkan belas ...

Bapakku Hilang, Ibuku Mati Penasaran

Gambar
(Dokumen Pribadi/Ahmad Muhajir) Bapakku Jafar telah menghilang begitu lama, puluhan tahun tanpa kabar, rasa penasaran entah sudah seperti apa kadarnya dan aku bahkan semakin merasa takut, menganggap diri ini benar-benar tidak punya perasaan, sebab sepertinya hati lambat laun jadi beku dan berusaha melupakannya. Kisah pilu dimulai dari tahun 1998-an, ketika Harto lewat Orde Babi-nya berkuasa dengan tangan besi. Pergolakan menentang pemerintahan Harto meletus di mana-mana, skalanya semakin meluas, orang-orang tidak lagi tiarap dihadapannya, malah semakin berani pasang badan untuk menunjukkan bahwa dia harus tumbang. Demonstrasi dengan massa jutaan pada akhirnya terjadi, sebuah momok yang paling ditakuti oleh penguasa, pada saat itu seluruh elemen rakyat mulai dari pelajar, mahasiswa, petani, nelayan, buruh, hingga kaum miskin kota terlibat. Bapakku pun ikut, begitu pula ibuku. Bapak masuk barisan aksi, sementara ibu dipinggir jalan menyediakan minuman dan makanan untuk para massa. Pada s...

Mati Kelaparan Bukan Peristiwa Besar

Gambar
Ilustrasi Mati Kelaparan ( news18.com ) Korbi baru menyadari, bahkan di saat kondisi pandemi virus corona (COVID-19) ada yang harus meninggal, bukan karena terjangkit COVID-19, namun, disebabkan oleh kelaparan. Lalu, Korbi pun bertanya kepada Juma: apakah kamu bisa membayangkan atau merasakan bagaimana pedihnya menahan lapar hingga mati? Juma linglung sesaat, lalu bertanya balik, kenapa Korbi bertanya demikian, apa yang sebenarnya dia pikirkan, lantas Korbi pun menjawab singkat, itu karena dia belum pernah mengalaminya, bahkan memperkirakan hal yang begitu, juga tidak masuk akal menurutnya, tapi hal ini terjadi. Korbi menegaskan kalau dirinya butuh jawaban dari Juma, seperti apapun yang keluar dari mulutnya, dia berharap bisa mengerti walau cuma sedikit. Dan akhirnya, temannya (Juma) merespons, dia menyatakan “mati karena lapar tidak bisa saya bayangkan Kor, itu terdengar amat pedih, saya tak sanggup untuk memikirkannya lama-lama." “Apa kita salah Jum membiarkan o...

Tukang Sol Sepatu dan Rasa Saling Berbagi

Gambar
Ilustrasi tukang sol sepatu (istimewa) Sepatu Lono soak setelah dia gunakan buat bermain sepakbola di lingkungan rumahnya, hari Sabtu itu membuatnya bertanya kepada temannya perihal biaya perbaikan sepatunya, Dadin menjawab sekitar Rp 25.000 untuk sepasang sepatu. Namun, Lono tidak mempertanyakan lebih lanjut mengenai harga tersebut, sebab yang dipikirkan dia, sudah pasti uang yang harus dikeluarkan bakal lebih murah mengingat hanya sepatu sebelah kanannya yang butuh perbaikan. Tiga minggu kemudian, penantian Lono akhirnya terjawab sudah, tukang sol sepatu lewat depan rumahnya, dan ternyata Ibunya juga menunggu keberadaan si tukang, lekas Ibu Lono memanggil, tas selempang sudah ditenteng, dan Lono sekaligus menambah “pasien” untuk si tukang, sepasang sepatu pemberian abangnya yang lama dibiarkan dalam rak. Lono lalu bertanya berapa harga yang harus dibayar untuk perbaikan-perbaikan sepatu dan tas, si tukang mengatakan Rp. 50.000 saja, lekas diambilnya uang, saat akan m...

Pemerintah Loyo Atasi Polusi Udara Membunuhmu!

Gambar
Foto: Istimewa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Rabu (02/5) lalu, merilis hasil studi mengenai polusi udara di dunia, haslinya cukup mengejutkan; 90 persen orang di planet Bumi menghirup udara yang mengandung tingkat polutan yang tinggi dan mampu membunuh tujuh juta orang setiap tahunnya. Laporan tersebut menjelaskan, mayoritas kematian karena buruknya kualitas udara terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, khususnya di Asia dan Afrika. Dalam sebuah peryataan, kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengutarakan bahwa polusi udara adalah ancaman bagi kita semua, namun orang-orang termiskin dan terpinggirkan justru menanggung beban yang paling berat. Menurut Ghebreyesus, lebih dari 3 miliar orang yang didominasi perempuan dan anak-anak, masih mengirup asap mematikan dari penggunaan tungku dan bahan bakar yang mencemari rumah mereka setiap hari, mengingat polusi udara adalah 'kunci' yang bisa mengakibatkan stroke, kanker, paru-paru, penyakit jantung, ...

Bob Marley, Pram dan Suara Pembebasan

Gambar
Bob Marley dan Pram sudah menyadarkan kita, dunia hari ini sunyi akan suara-suara untuk masyarakat tertindas. Praktis dalam bingkai kehidupan seperti ini banyak orang tidak lagi peduli dengan nasib orang banyak, kita lebih memilih hidup bergelimpang harta dari pada saling berbagi satu sama lain untuk memenuhi kebutuhan. Orang tidak lagi memilik prinsip dalam dirinya, menjadikan mereka sangat pragmatis, berusaha sebisa mungkin bertahan dalam zona nyaman, tidak miskin dan tidak juga menolong yang miskin. Sekarang berbicara soal kemiskinan dianggap sebuah kemunafikan dan uang sudah menjadi tolak ukur kebahagiaan. Inilah kapitalisme, bagi Albert Einstein dalam tulisannya “Why Socialism?” ini merupakan gambaran dari seseorang yang telah berjuang keras namun sia-sia untuk memperoleh keseimbangan dalam dirinya sendiri dan kurang lebih menjadi putus asa. Ini merupakan ekspresi dari kesendirian yang menyedihkan dan terasing dari masyarakat banyak yang saat ini sedang menderita. Harus dia...

Melihat Dunia Layaknya Seorang Anak

Gambar
Sumber: phillyvoice.com Aurora tentu sangat sadar, dunia sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Bencana alam, kemiskinan, perang, teror, hampir di belahan dunia manapun telah terjadi. Siapa yang harus disalahkan? Kenapa semua ini terjadi? Sebenarnya apa yang sedang dia rasakan? Apa yang dipikirkan olehnya? Setiap orang bisa merasakan trauma ketika dirinya mengalami sebuah bencana, fisik ataupun batin akan terguncang. Ada seorang Ibu yang merasakan pedihnya kehilangan seorang anak karena terbunuh dalam ruang konflik, ada sang Ayah yang gelisah belum mendapatkan upah yang akan digunakan untuk membeli susu si anak. Aurora telah melihat itu, iya juga bisa merasakan itu. Hatinya terkadang sakit menghadapi kenyataan tersebut, tak jarang Aurora marah, berharap semua ini berakhir secepat mungkin. Dunia seperti ini begitu kejam, karena seorang anak akan merasakan hal sama bila semua ini tak berakhir. Dia selalu ingin kehidupan penuh kegembiraan, layaknya anak-anak bermain denga...

Kita Bagai Jakarta Sehabis Hujan

Gambar
Alasan mengapa kita menjalankan rutinitas sehari-hari adalah satu, untuk bertahan hidup. Sejak lahir kita telah dibentuk supaya kedepan nanti mampu melakukan proses demi bertahan hidup. Ketika diasuh Ibu, diberikan asi untuk memenuhi nutrisi dengan harapan kelak tumbuh dewasa. Kita diajari berbicara, berinteraksi dengan sesama dan segala elemen yang ada di dunia ini. Tumbuh besar, berkecukupan merupakan impian bagi setiap orang. Setelah kita telah mampu melewati proses yang demikian, mulailah berkenalan dengan pendidikan, namun hal ini tidak se-ideal atas apa yang telah menjadi hak kita sebagai masyarakat, masih banyak diantara kita tidak bisa mengakses pendidikan tersebut, mereka yang tidak bisa mengakses ini, tak jarang harus melompat jauh untuk mulai bekerja, mereka tidak bisa menikmati bermain bersama teman-teman dibangku sekolah, mereka justru harus lompat dan masuk ke gerbang dimana keringatnya akan diperas habis. Jakarta, kota yang sekian lama telah menjadi utop...

Bapak Jadilah Gemuk Kembali

Gambar
Sony selalu mengakui bahwa dirinya memang tidak bisa ngobrol layaknya teman pada orang tuanya entah apa sikap seperti ini bisa tumbuh pada dirinya, Sony terkadang iri pada teman-temannya karena mereka busa membuat Ibunya tertawa, memeluk Bapaknya, mencium pipi kedua orang tuanya.   Sony sangat benci perasaan takut kehilangan seseorang dalam hidupnya, bagi Sony perasaan ini sangat menyiksa, membuat hatimu sakit, kakimu akan gemetar, kau akan merasakan ingus yang mengumpul akan tumpah, air mata akan meluap.              Sony sanga t terkejut, si Bapak akhirnya sakit, jatuh sakit tepat di depan matanya sendiri. Sepulang kerja si Bapak duduk diam di kursi, matanya tertutup, tubuhnya dingin. Selama ini Sony tak pernah mempersiapkan diri, melupakan kenyataan bahwa suatu saat nanti Bapak akan jatuh sakit juga, akan pergi meninggalkan dirinya. Bapak akhirnya dibawa ke rumah sakit, Bapak dirawat, Sony hanya bisa memb...